Teror adalah Risiko Penegak Hukum - VIVA
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
Senin, 12 Agustus 2019 | 07:57 WIB

Teror adalah Risiko Penegak Hukum

Basaria berharap Pansel memilih calon terbaik
Basaria Panjaitan
Photo :
  • VIVA/M Ali Wafa

Basaria Panjaitan

VIVA – Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi sorotan. Sejumlah kalangan, khususnya para pegiat anti korupsi menilai, Pansel kurang transparan dan tidak bekerja secara optimal dalam menjaring orang-orang yang akan menjadi komisioner KPK.

Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan mengatakan, Pansel telah bekerja dengan baik. Meski tak lolos dalam proses seleksi, Basaria menganggap sejauh ini Pansel telah bekerja secara optimal. Menurut dia Pansel diisi oleh tokoh-tokoh senior yang memang mumpuni dalam proses seleksi. 

Kepada VIVAnews, perempuan pertama yang menjadi pimpinan KPK ini berharap, siapapun yang akan terpilih bisa meneruskan program-program yang sudah dikerjakan oleh para pimpinan KPK sebelumnya. Dia juga menekankan, bahwa tugas KPK tak hanya penindakan namun juga pencegahan. Sehingga pencegahan dan perbaikan sistem di segala lini harus terus dilakukan demi memberantas tindak pidana korupsi.

Demikian petikan wawancara yang dilakukan di ruang perpustakaan KPK, Jakarta, Jumat, 9 Agustus 2019.

Pansel Capim KPK banyak dikritik karena dinilai tidak transparan. Tanggapan Anda?

Saya no komen. Kalau ada orang yang kritik tanya sama yang kritik. Kalau saya sih prinsipnya gitu. Mereka sudah dipilih, pasti ini dianggap sudah yang terbaik oleh yang memilih.

Bagaimana Anda menilai kinerja Pansel?

Kalau itu saya tidak bisa menilai itu, yang pasti bagus lah. Yang dipilih presiden pasti baguslah. 

Apakah Pansel sudah menyerap aspirasi KPK?

Iya sudah menyerap. Karena yang 3 kan Pansel kami dulu. Yang satu bahkan sudah pernah di sini. Semua itu pengalamannya cukup baik. Untuk ukuran saya cukup bagus.

Basaria PanjaitanWakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan

Kenapa sampai hari ini KPK terkesan lebih banyak melakukan penindakan dibanding pencegahan

Sebenarnya kalau menurut saya engga juga sih. Kalau dilihat, berapa sih kasus yang ditangani KPK. Sebagian besar OTT. Tahun kemarin ada sekitar 30. Bayangkan yang ditangani oleh Kejaksaan dan Kepolisian, mereka ribuan. 1200 sekian.

KPK sudah banyak melakukan penindakan. Tapi korupsi masih terus terjadi. Apakah ini menunjukkan penindakan yang dilakukan tidak menimbulkan efek jera?

No, no, no. Itu seperti tadi saya katakan harus lebih berpusat ke perbaikan ke pencegahan. Pencegahan itu bisa pre-emtif. Misalnya membuat Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK). Bicara pada perempuan, Anda jangan seperti ini akibatnya begini. Terus di sekolahan dari Paud sampai perguruan tinggi. Para pengusaha ada profesional berintegritas Anda kalau bekerja harus begini. 

Selain itu?

Kemudian preventif. Ini memang upayanya harus nyata. Misalnya di jalanan itu dibuat lampu merah agar orang berhenti. Jadi ga usah ngomong ngomong kalau lampu merah harus stop hijau jalan dan kuning hati-hati. Itu preventif.

Kaitannya dengan pencegahan korupsi?

Yang kita buat sekarang terlalu banyak pengadaan barang yang korupsi misalnya. Itu dari hasil pengalaman. Kita buat e planning dengan e budgeting. jadi semua perencanaan yang ada terintegrasi dengan penganggarannya. Langkah berikutnya pelaksanaannya, ini kita dorong semua terbuka. Sehingga nanti kita bisa lihat berapa anggarannya dan buat apa saja.

Jadi kunci dari (pencegahan) korupsi itu transparansi. Kalau semua sudah transparansi semua orang bisa memantau, sangat kecil kita untuk melakukan korupsi. Langkah-langkah ini yang sedang kita buat sekarang.

Berarti penindakan itu upaya terakhir ya?

Iya sudah pasti. Tapi itu harus kita lakukan. Karena misalnya anak-anak datang, Korsub datang ke sana sudah dikasih tahu. Anda harus lakukan rencana aksi sudah buat komitmen segala macem. Jadi ini belum berjalan. Tapi ini baru kita mulai. Nah kalau penindakan dikatakan upaya terakhir, benar karena tidak ada jalan lain lagi. Tapi itu harus kita lakukan. Sebenarnya penindakan juga upaya pencegahan yang paling efektif. Makanya ada strategi. Grand strategi kita penindakan pencegahan terintegrasi. 

Maksudnya?

Kalau sudah ada penindakan di sana, kita bedah supaya tidak terjadi lagi. Tim korsub masuk. Apa yang harus dibenahi. Dulu Anda sudah komit bikin e budgeting, e planning, ternyata tidak jalan. Biasanya kalau ada yang ditangkap cepat tuh bikin. Jadi Korsub kita datang, pembenahan aset aset daerah harus dibuat sertifikat, harus dikembalikan pada pemda. Kemudian lihat ada yang fiktif perjalanan, diingatkan dibenahi, satu kali dua kali tidak bisa juga ditindak. 

Basaria PanjaitanWakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan

Bagaimana dengan progres Korsub?

Sekarang sudah ada di 9 wilayah. 

Bisa dijelaskan fungsi dan tugas Korsub ini?

Jadi Korsub ini ada koordinasi dan supervisi di bidang pencegahan dan penindakan. Kalau di bidang penindakan antara lain mereka melihat kasus-kasus yang ditangani polisi dan jaksa, apakah ada kendala. Bayangkan kalau kapolres dan bupati ada pertemuan setiap bulan, bisa jadi, kalau saya sih tidak ada kata tidak enak. Tapi kadang-kadang ada perasaan tidak enak itu. Jadi kemudian selain membenahi itu, kalau ada perlu saksi ahli. Kemudian dibuat juga pelatihan-pelatihan. BPKP, BPK dan Ombudsman dikumpulkan supaya menangani kasus di wilayah. Tapi itu relatif kecil, karena baru dimulai tahun kemarin. 

Tim korsub ini sudah ada sebelumnya, atau baru ada di era sekarang?

Sebenarnya sudah ada. Cuma kalau di era kita sudah benar-benar ada bentuknya. Sekarang sudah ada jabatan itu. Misal sekarang ada kor wilayah 1-9 orang-orangnya jelas.

Apakah 9 wilayah itu sudah cukup?

Menurut saya itu relatif sedikit. Kita menginginkan itu diisi semua. Minimal satu di satu provinsi. Jadi dibutuhkan orang yang banyak, kemudian orang yang berpengalaman, karena kalau tidak berpengalaman tidak bisa.

Apakah ada penolakan terkait Korsub ini?

Umumnya wilayah itu senang KPK turun.

selanjutnya, korupsi marak di daerah..

Saksikan Juga

Massa PMII Terlibat Bentrokan dengan Polisi

TVONE NEWS - 1 hari lalu
loading...
Muat Lainnya...