Kita Dorong Orang-orang Baik Masuk Politik – VIVA
Download Our Application
A Group Member of VIVA
img-thumb

viva.co.id

  • Senin, 8 Januari 2018 | 06:57 WIB
  • Kita Dorong Orang-orang Baik Masuk Politik

  • Oleh
    • Mustakim,
    • Rifki Arsilan
Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie
Photo :
  • VIVA/M Ali Wafa
Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie

VIVA – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) membuat terobosan baru terkait rekrutmen bakal calon anggota legislatif (bacaleg). Selain dilakukan secara terbuka, partai ‘anak muda’ yang baru dibentuk beberapa tahun itu juga melakukan seleksi guna menguji kompetensi orang-orang yang mendaftar untuk Pemilu.

Tak hanya itu, usai lolos uji kompetensi, mereka juga diwajibkan melakukan uji sosialisasi dengan terjun langsung ke masyarakat dan mengumpulkan foto copy KTP dan testimoni dari warga. Track record mereka juga akan diuji ke publik melalui media sosial.

Kepada VIVA, Ketua Umum PSI Grace Natalie menuturkan, seleksi itu dilakukan guna mendapatkan sosok-sosok yang kompeten dan layak untuk mewakili PSI di parlemen. Untuk itu, seleksi dilakukan oleh tokoh-tokoh di luar PSI yang tak diragukan kompetensi dan integritasnya.

Demikian penjelasan mantan jurnalis dan presenter televisi ini saat VIVA berkunjung ke kantor PSI, yang terletak di kawasan Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.

PSI dinilai melakukan terobosan baru dalam rekrutmen bakal calon anggota legislatif, yakni dengan seleksi uji kompetensi. Bisa dijelaskan secara rinci?

Sederhana saja logikanya. Jumlah penduduk Indonesia kan sekitar 255 juta orang. Jumlah perwakilan rakyat itu hanya sekitar 550 orang yang duduk di DPR. Harusnya, mereka itu adalah orang yang terbaik dari yang terbaik yang kita miliki, karena tugas mereka itu teramat penting. Karena mereka itu yang membuat atau mengatur aturan main semua aturan di republik ini.

Lalu?

Tapi kenapa selama ini kita tidak pernah tahu seseorang itu sampai ada di kertas suara itu bagaimana dia bisa sampai di situ? Apa latar belakangnya? Apa kompetensi yang dimilikinya? Bagaimana track recordnya?

Lihat Juga

Maksudnya?

Analogi sederhananya. Begini, kalau kita punya warung makan, tentu kita perlu karyawan untuk membantu kita melayani tamu untuk membantu kita. Tentu kita memerlukan atau mencari orang yang terbaik, yang bisa menghitung, yang rajin masuk kerja. Jangan kita cari orang yang malas untuk masuk kerja, karena ini akan menghambat. 

Untuk cari orang yang bakal jagain warung kita saja mungkin kita akan menginterview orang mencari orang yang terbaik, apalagi mencari orang untuk duduk menjadi wakil rakyat di DPR RI.

Mereka itu adalah orang yang akan menjaga republik kita ini. Jadi dari situlah kita ingin memulai tradisi baru. bagaimana kita bisa melakukan proses seleksi mencari orang-orang terbaik, yang profesional, yang dapat mewakili rakyat di DPR dengan melewati proses seleksi yang profesional dan transparan. Dan kita yakin ketika proses ini kita jalankan, orang-orang terbaik itu akan tertarik untuk masuk.

Mengapa perlu ada seleksi yang transparan?

Sekarang ini kan kita tahu ada isu-isu yang beredar dalam proses pencalonan anggota legislatif yang dilakukan oleh partai-partai lama. Katanya ada uang pengambilan formulir, ada uang pengembalian formulir, nomor urut berapa itu semua ada price listnya. 

Dan yang saya ketahui sendiri, ada ketua umum partai yang memasang caleg-calegnya itu asal-asalan saja, suka-suka dia, seperti istrinya, ajudannya dimasukin. Siapa yang dia kenal dimasukin, orang-orang dekat dia dimasukin. Ada beberapa artis untuk vote getter itu masuk. Jadi tidak jelas proses seleksinya, karena selama ini tidak pernah ada proses perekrutan yang dilakukan secara terbuka.