Hutan Mangrove: “Pahlawan” untuk Nelayan dan Petani di Desa Kacepi
Jumat, 11 Oktober 2019 | 00:00 WIB

Hutan Mangrove: “Pahlawan” untuk Nelayan dan Petani di Desa Kacepi

Pemerintah melihat potensi yang bisa dikembangkan dari hutan mangrove.
Hutan Mangrove di Desa Kacepi.
Photo :
  • Desa Kacepi

Hutan Mangrove di Desa Kacepi.

VIVA – Sebagian wilayah di Maluku memang menyimpan hasil bumi yang tidak bisa diremehkan. Tambang emas, salah satunya. Faktanya, tambang emas di Maluku, tepatnya di Maluku Utara ini menjadi daya tarik utama masyarakat Desa Kacepi, Kecamatan Pulau Gebe, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara untuk bisa memperoleh Rupiah.

Meski tambang emas bisa menjadi lahan pekerjaan yang menggiurkan, tidak sedikit penduduk di Desa Kacepi justru memilih profesi lain sebagai nelayan dan petani. Dua profesi inilah yang menjadi profesi yang ditekuni masyarakat Desa Kacepi. 

Untuk diketahui, Desa Kacepi memiliki penduduk yang 75 persen berprofesi sebagai pekerja tambang dan sisanya berprofesi sebagai nelayan dan pekebun kelapa. Namun demikian, keadaan alam dan tanaman di desa tersebut ternyata membuat nelayan dan petani harus mengalami penurunan pendapatan dalam setahunnya. 

“Penerimaan penduduk terutama yang berprofesi sebagai nelayan pendapatannya relatif tidak menentu karena selalu ada jeda waktu di mana pendapatannya menurun,” jelas Muhammad salah satu Bendahara di Desa Kacepi kepada tim Viva melalui Whatsapp. 

Sebabnya, lanjut Muhammad karena nelayan tidak akan melaut ketika musim angin besar tiba yang biasanya terjadi di bulan Agustus – November. “Begitupun untuk petani kelapa pendapatannya menurun karena pekebun kelapa harus menunggu jeda masa panen selama 3 – 6 bulan,” katanya. 

Artikel Terpopuler