48 Ilmuwan Diaspora Hadir Ikuti Simposium Cendekia Kelas Dunia 2018
Minggu, 12 Agustus 2018 | 14:01 WIB

48 Ilmuwan Diaspora Hadir Ikuti Simposium Cendekia Kelas Dunia 2018

Para ilmuwan diaspora tersebut berasal dari 11 negara.
Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti
Photo :

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti

VIVA – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) memastikan sebanyak 48 orang ilmuwan diaspora akan hadir dalam Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) di Jakarta pada 12-18 Agustus 2018. Para ilmuwan diaspora tersebut berasal dari 11 negara, meliputi Malaysia, Singapura, Arab Saudi, Australia, Inggris, Swedia, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, Jepang, dan Kanada. Selama kurang lebih sepekan, mereka diwajibkan untuk berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman, bersinergi menjalin relasi, serta berkolaborasi menghasilkan joint research, joint publicationbersama ilmuwan dalam negeri, serta membuka kesempatan short coursedi luar negeri. 

Terkait pelaksanaan SCKD Tahun 2018, Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti menyatakan bahwa program ini bukan sekadar mengembangkan ilmu pengetahuan Indonesia, tapi mempererat tali kebangsaan. Pasalnya, masing-masing ilmuwan diaspora akan disebar ke berbagai daerah di Tanah Air untuk bertemu dan menjalin kerja sama, baik dengan mitra risetnya di Indonesia maupun dengan akademisi di perguruan tinggi tujuan. Setidaknya, terdapat 55 perguruan tinggi yang akan dikunjungi para ilmuwan diaspora ini.

"Hal ini menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan itu justru merekatkan, bukan malah menyekatkan. Program bersama ilmuwan diaspora ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk pengembangan SDM Indonesia dengan melibatkan seluruh komponen anak bangsa di mana pun mereka berada," ujar Dirjen Ghufron, Sabtu (11/8).

Dirjen Ghufron menjelaskan, para ilmuwan diaspora yang hadir telah diseleksi secara ketat dengan melibatkan peran Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) dan Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia (I-4). Kegiatan SCKD sendiri mendapat antusiasme tinggi dari para ilmuwan diaspora. Tercatat, sejak dibuka pendaftarannya pada bulan Juni silam, ada 120 ilmuwan diaspora mendaftar program ini. Dengan begitu, ucap Dirjen Ghufron, para ilmuwan diaspora yang telah sukses berkarier di luar negeri tersebut memiliki hasrat untuk tetap mengabdi kepada Ibu Pertiwi.