Mau Intervensi Militer ke Libya, Pemerintah GNA Siap Hadapi Mesir

Mau Intervensi Militer ke Libya, Pemerintah GNA Siap Hadapi Mesir

Senin, 22 Juni 2020 | 17:34 WIB
Pemerintahan GNA marah besar dengan pernyataan Presiden Mesir El-Sisi
VIVA Militer: Perdana Menteri  Libya, Fayez al-Sarraj
Photo :
  • Inside Over

VIVA Militer: Perdana Menteri Libya, Fayez al-Sarraj

VIVA – Pemeritah Kesepakatan Nasional (GNA) Libya berang alias marah besar dengan pemerintahan Mesir setelah mendengar pernyataan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi terkait dengan kemungkinan dilakukannya intervensi militer Mesir di Libya. 

Pernyataan Presiden Mesir El-Sisi itu terlontar selang beberapa hari pasca pembicaraan gencatan senjata atas konflik berkepanjangan antara pasukan militer GNA dengan militer Tentara Nasional Libya (LNA) pimpinan Khalifa Haftar yang diusulkan oleh pemerintah Mesir ditolak mentah-mentah oleh Turki sebagai salah satu negara pendukung pemerintahan GNA Libya.

Dewan Presiden GNA menilai pernyataan Presiden Mesir terkait dengan intervensi militer Mesir ke Libya merupakan 'deklarasi perang' yang disampaikan oleh Mesir terhadap Libya. Libya pun siap berhadap-hadapan dengan negara manapun yang berupaya mengganggu kedaulatan negaranya, termasuk Mesir.

"Negara Libya menegaskan bahwa campur tangan dalam urusan internal dan pelanggaran kedaulatan negara, baik melalui pernyataan media dari beberapa negara seperti yang terjadi oleh Presiden Mesir, atau dukungan untuk kudeta, milisi dan tentara bayaran, tidak dapat diterima. Itu tercela dan dianggap sebagai tindakan bermusuhan, campur tangan terang-terangan dan deklarasi perang," kata Dewan Presiden GNA dikutip VIVA Militer dari Al-Masdar News, Senin, 22 Juni 2020.

Dia menegaskan, saat ini Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) adalah satu-satunya perwakilan sah negara Libya yang disepakati oleh dunia internasional. Sehingga, lanjutnya, apapun keputusan yang diambil oleh pemerintah GNA terkait dengan situasi di Libya merupakan hak yang sah untuk kepentingan masyarakat Libya.

"Kami akan menghadapi dengan kuat segala ancaman terhadap negara kami, dan negara-negara itu harus memperhatikan masalah dan ancaman keamanan mereka di dalam wilayah mereka," ujarnya. 

Baca : Gencatan Senjata Ditolak, Militer Mesir Bersiap di Perbatasan Libya

Untuk diketahui, akhir pekan lalu, Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi mengeluarkan komentar pedas terhadap pemerintah GNA yang berbasis di Tripoli. Pernyataan pedas El-Sisi itu disampaikan ketika dia mengunjungi pangkalan udara di Matrouh dekat perbatasan Libya. Dihadapan komandan perang dan pasukannya, El-Sisi menyinggung tentang kemungkinan mengirim misi eksternal ke Libya jika diperlukan. Menurut El-Sisi, setiap intervensi langsung di Libya adalah sah secara internasional.

Sebagaimana diketahui, Mesir memang dikenal sebagai salah satu negara yang mendukung kekuatan militer LNA yang dipimpin Jenderal Khalifa Haftar bersama Rusia. Sementara, pemerintah Kesepakatan Nasional Libya (GNA) mendapatkan dukungan penuh dari Turki dan AS. 

Perang saudara antara GNA dan LNA yang terjadi pasca runtuhnya rezim Muammar Qadafi itu diduga kuat dipengaruhi oleh negara-negara asing untuk memperebutkan sumber daya alam yang ada di sekitar laut Mediterania yang masuk wilayah Libya.

Baca : Pemerintah Libya Tuding Presiden Mesir Picu Perang Baru

Berita Terkait :
Saksikan Juga