TNI Jadi Korban Taktik Licik Bisnis Senjata Militer Amerika

TNI Jadi Korban Taktik Licik Bisnis Senjata Militer Amerika

Selasa, 4 Agustus 2020 | 06:04 WIB
Apa yang dilakukan militer Amerika pada TNI?.
VIVA Militer: Tentara Nasional Indonesia.
Photo :
  • Penkostrad

VIVA Militer: Tentara Nasional Indonesia.

VIVA – Ternyata taring runcing Amerika Serikat sebagai pedagang alat-alat perang bagi militer negara-negara dunia mulai rontok satu persatu.

Berbagai ancaman bermodus payung hukum yang diterbitkan Amerika untuk mengekang negara-negara dunia agar terjerat dalam aturan bisnis senjata tak lagi menjadi sebuah hal yang menakutkan.

Negara-negara dunia mulai menyadari bahwa berbisnis senjata dengan Amerika hanya membuat mereka terjebak pada aturan monopoli bisnis senjata yang tak berujung.

Bagaimana tidak, dalam beberapa aturan hukum yang diterbitkan Amerika untuk menguasai bisnis senjata dunia sudah dirasakan dampak meruginya.

Dua negara yang terbaru menyadari hal itu ialah Jerman dan Prancis. Kedua negara Eropa ini akhirnya dengan bulat menyatakan menghentikan kerjasama senjata dengan Amerika. Mereka menyatakan tak mau lagi membeli alat perang dari AS.

Dikutip VIVA Militer dari koran terbitan Jerman Wlet am Sonntag, Jerman dan Prancis merasakan dampak buruk dari berbisnis senjata dari Amerika. Selama menjadi pelanggan senjata Amerika, kedua negara itu merasakan bagai seekor kerbau yang dicucuk lubang hidungnya.

Bagaimana tidak, meski peralatan militer telah mereka beli dan menjadi hak mereka. Namun, mereka tak mudah untuk bisa menjualnya lagi ke negara lain. Padahal peralatan perang yang dibeli sudah harus dimodernisasi dan masih bisa menghasilkan uang jika dijual untuk membeli senjata baru.

VIVA Militer: Tank tempur militer Jerman.

Belum lagi masalah teknologi, membeli persenjataan Amerika sama saja tak akan pernah bisa sepenuhnya menguasai teknologinya. Sebab jangankan teknologinya, suku cadang saja hanya bisa dibeli dari Amerika.

Yang paling tak enaknya, data negara pemakai teknologi senjata Amerika bagai ditelanjangi. Tak ada data militer yang jadi rahasia, padahal data keamanan sebuah negara merupakan hal yang tabu diketahui negara lain. Intelijen saja harus bekerja keras untuk bisa mendapatkan data keamanan negara.

Selama ini Jerman dan Prancis serta negara Eropa dibelenggu Amerika dengan taktik licik, Amerika menerbitkan Peraturan Lalu Lintas Internasional (ITAR) untuk mengendalikan perdagangan senjata Benua Biru.

"Tanpa ITAR dan sistem peraturan AS lainnya, Eropa mendapat lebih banyak kebebasan dalam siapa yang memasok dengan produk militer," kata Florent Chauvancy, direktur penjualan Departemen Mesin Helikopter dari pabrikan Prancis Safran.

Jerman dan Prancis tak mau selamanya dibodohi, uang yang beredar dalam perdagangan senjata bukan recehan. Lihat saja bagaimana Amerika bisa hidup dan maju dengan meraup keuntungan dari bisnis senjata.

"Salah satu keuntungan dari produk 100 persen buatan Eropa adalah bahwa data perusahaan ini tetap di Eropa dan tidak jatuh ke tangan negara-negara non-Eropa," ujar Chauvancy.

Kini Jerman dan Prancis akan memulai hidup baru sebagai negara yang merdeka dari jajahan bisnis senjata Amerika. Mereka berencana memproduksi senjata produksi dalam negeri.

VIVA Militer: Kapal Induk Prancis, Charles de Gaulle

Lain lagi dengan negara di luar Eropa, Mesir misalnya. Raja Militer Afrika ini juga mulai berani melepaskan diri dari jeruji egoisme Amerika. Terbukti, walau mendapat ancaman yang mengerikan dari Amerika, Negeri Firaun tetap nekat melanjutkan kesepakatan pembelian senjata dari rival terberat Amerika, Rusia.

Mesir baru saja memborong jet tempur multiperan Sukhoi Su-35. Tak tanggung-tanggung lebih dari 20 Su-35 yang dibeli Mesir dalam kesepakatan dengan Kremlin. Bahkan, dalam waktu dekat ini lima di antaranya akan segera menjadi keluarga Angkatan Bersenjata Mesir.

Berita Terkait :
Saksikan Juga