Download Our Application
A Group Member of VIVA
img-thumb

viva.co.id

  • Selasa, 9 Januari 2018 | 14:07 WIB
  • Mengenal Thibbun Nabawi Bekam dalam Konteks Syari dan Medis

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Herdian Armandhani
Ustaz Dr. Faizal Abdillah Shabib.
Photo :
Ustaz Dr. Faizal Abdillah Shabib.

VIVA – Pengobatan bekam merupakan pengobatan alternatif yang telah banyak dikenal oleh umat Islam, bahkan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Dalam suatu hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik dikatakan bahwa Rasullullah melakukan bekam ketika beliau sedang berihram karena nyeri di kepalanya.

Masih dalam hadis yang sama, diungkapkan bahwa Rasulullah biasa melakukan bekam di akhdain dan kahil dan biasanya beliau berbekam pada tanggal 17, 19, dan 21. Bekam merupakan pengobatan dengan melakukan penyayatan, pengisapan, dan pengeluaran darah yang kemudian ditampung dalam gelas. Dengan tujuan untuk mengeluarkan zat racun yang tidak terekresikan oleh tubuh.

Semua hal mengenai praktik pengobatan bekam dibahas tuntas dalam kajian yang dibawakan oleh Ustaz Dr Faizal Abdillah Shabib pada Kajian Islam Ilmiyah yang diselenggarakan pada Minggu, 7 Januari 2018 pukul 09.00 WITA di Masjid Al Fitrah, Jalan Gunung Mangu V, Monang-Maning, Denpasar.

Ustaz Dr Faizal Abdillah Shabib merupakan pendakwah dan praktisi pengobatan Thibbun Nabawi. Saat ini, ia menjabat sebagai Direktur RSIA  Wihdatul Ummah, Makassar. Ustaz Faizal Abdillah Shabib merupakan alumni Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin, Makassar angkatan 1996. Selain itu, ia juga mendapatkan amanah sebagai Direktur Alquran Memorization Training, Pembina Dauroh 40 Hari Menghafal Alquran AMT. Beliau juga alumni Dauroh 40 Hari Alquran di Negara Sudan tahun 2013.

Menurut Dr Faizal, pengobatan bekam sudah dikenal dalam tradisi Yunani Kuno. Namun, pada saat itu proses bekam banyak menguras darah pasien sehingga darah pasien banyak terbuang. Di China, herbalis atau tabib bernama Gehong dalam bukunya Handbook of Prescripton, menjelaskan metode bekam yang dilakukan dengan tanduk. Lebih ektremnya di Eropa, tindakan bekam dengan menggunakan hewan lintah.

Baru pada tahun 300 H di Kota Baghdad, Irak, dikembangkan metode bekam dengan menggunakan al kayy (besi panas), fashid, dan bekam jubb (terbuat dari gelas kaca). “Di Indonesia, metode bekam dilakukan dengan menggunakan jubb (gelas kaca) dan melumurkan minyak zaitun pada tubuh pasien,” jelas ustaz kelahiran Surabaya, 16 September 1977  ini.

Lanjutnya, bekam merupakan alternatif pengobatan kesehatan selain mengonsumsi obat apabila pasien merasakan sakit pada tubuhnya. “Bekam merupakan sebaik-baiknya terapi. Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Qoyyim Attibun Nabawi, bahwa bekam dapat membersihkan permukaan tubuh dan mengeluarkan darah kotor di sekitar kulit. Terapi bekam sebaiknya dilakukan saat siang hari pada suhu yang panas,” ungkapnya.

Seorang praktisi bekam harus mengetahui titik-titik yang bisa dilakukan terapi. Perlu diingat, pengobatan bekam merupakan terapi alternatif. Dan apabila seorang pasien mengalami sakit, juga wajjib dikombinasikan dengan pengobatan medis. “Tidak disarankan melakukan bekam bagi ibu hamil, seseorang yang memiliki riwayat diabetes mellitus, darah tinggi, maupun kanker,” paparnya.

Ustaz Dr Faizal Abdillah Shabib menambahkan, saat ini banyak masyarakat muslim yang belajar menjadi terapis bekam. Hanya saja, masih sebagian kecil yang membuka praktik pengobatan bekam karena terkendala sertifikasi, dukungan dari pemerintah, dan biaya pembelian alat bekam. “Mudah-mudahan ke depan, pemerintah bisa memberikan sertifikasi dan pembinaan secara profesional untuk para terapis bekam,” tutupnya. (Tulisan ini dikirim oleh Herdian Armandhani, Denpasar)

 

Saksikan Juga :