Download Our Application
A Group Member of VIVA
img-thumb

viva.co.id

  • Selasa, 9 Januari 2018 | 18:14 WIB
  • Pengendalian Emosi dan Risiko Berkendara di Jalan

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Fahmi Satria Utama
Ilustrasi kecelakaan motor.
Photo :
  • Iwan Heriyanto | surabayapost
Ilustrasi kecelakaan motor.

VIVA – Sabtu, 9 Desember 2017, kejadian memilukan terjadi di Jalan Kyai Maja, Blok M, Jakarta Selatan. Seorang pria menabrak sebuah mobil SUV dengan sepeda motornya karena melawan arus. Lantaran tidak terima, keduanya beradu mulut dan berhasil dilerai oleh masyarakat sekitar.

Sekitar hampir 30 menit mereka beradu argumen, keduanya pun memutuskan untuk membubarkan diri dan bersepakat untuk menyelesaikan masalah dengan cara kekeluargaan. Entah apa yang ada di benak pria bersepeda motor, ia mengeluarkan handphone dan memotret plat nomor mobil SUV tersebut.

Tanpa disangka di dalam mobil SUV tersebut terdapat dua orang lainnya yang langsung keluar dari mobil dan merebut handphone milik pesepeda motor. Pengendara motor akhirnya geram dan memukul salah satu penumpang mobil. Kemudian, ketiga penumpang mobil pun menghajar korban secara bersama-sama.

Warga dan pengguna jalan sekitar yang melihat kejadian itu langsung datang dan melerai mereka. Ojek online yang melerai malah kewalahan dan meminta rekannya untuk mendatangi kantor polisi terdekat. Tanpa ada ampun, pengendara sepeda motor yang sudah lemas terkulai masih menjadi bulan-bulanan pengemudi dan penumpang mobil SUV tersebut.

Tidak lama, seorang polisi berpakaian preman datang ke lokasi dengan melepaskan tembakan ke udara sebanyak satu kali. Polisi tersebut masih mencoba menenangkan kedua pihak yang masih panas tersebut. Korban dibantu untuk bangun, dan ketiga pelaku ditangkap oleh warga. Para pelaku juga sempat menelepon seseorang untuk datang ke lokasi, kemungkinan adalah teman dari si pelaku. Setelah semuanya tenang dan keterangan dari para saksi dan kedua pihak jelas, maka proses pun dilanjutkan di kantor polisi.

"Tadi sebenarnya kan yang nabrak mobil yang pakai motor. Dia lawan arah, dan sempat ribut dulu sekitar setengah jam kayaknya. Pas udah mau pergi, yang pake motor malah foto plat mobilnya. Akhirnya, langsung dikeroyok tiga orang di dalam mobil itu," jelas seorang pria tua bernama Suryo (bukan nama sebenarnya).

Ia mengaku melihat kejadiannya langsung saat ia sedang melayani pelanggan di gerobak baksonya. "Ini malah ribet. Sudah jadi tontonan warga, bikin macet, masalahnya jadi makin panjang sampai dibawa ke polisi. Harusnya bisa dengan cara baik-baik, enggak usah pakai keroyokan begini," tambahnya.

"Semuanya sudah bisa dikendalikan. Mungkin dari kedua belah pihak hanya ada salah paham saja dan akan diproses lebih lanjut di kantor," jelas anggota polisi yang tidak ingin disebutkan namanya tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh ketiga pelaku dapat dikenakan pidana apabila terbukti bersalah.

Para pelaku dan korban dibawa ke kantor polisi dengan menggunakan mobil dari kepolisian. Mobil pelaku dan motor korban juga ikut diamankan. "Kita juga berterima kasih kepada masyarakat atas inisiatifnya melerai para pelaku dan mencoba menyelamatkan korban. Mungkin akan lebih parah lagi jika dibiarkan," lanjutnya.

Kejadian seperti ini sudah lumrah dan biasa terjadi di jalanan. Kelakuan arogan para pengguna jalan adalah masalah utamanya. Tidak mau mengalah, berkata kasar atau mengumpat, dan perilaku yang buruk menjadi pemicunya. Tidak jarang berujung rumah sakit atau kantor polisi.

Mungkin akan lebih baik lagi jika ada pengarahan atau pelatihan psikologis untuk para calon pengguna kendaraan bermotor. Karena jalanan bisa menjadi tempat yang mengerikan. Perkelahian, kecelakaan, bahkan tindak kriminal lainnya dapat terjadi di mana saja dan kapan saja, contohnya kejadian ini. (Tulisan ini dikirim oleh Fahmi Satria Utama, mahasiswa Universitas Pancasila, Jakarta)

 

Saksikan Juga :