Listrik Padam Catatan Kelam
Selasa, 6 Agustus 2019 | 06:08 WIB

Listrik Padam Catatan Kelam

Aktivitas ekonomi terganggu. Masyarakat dirugikan.
Infrastruktur listrik PLN
Photo :
  • Dok. PLN

Infrastruktur listrik PLN

VIVA – Nyaris separuh wilayah di Pulau Jawa pada Minggu siang 4 Agustus 2019 atau dua pekan menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 RI mengalami kejadian luar biasa, yaitu padamnya aliran listrik secara mendadak.

Kejadian yang terjadi pada pukul 11.48 WIB tersebut menciptakan kepanikan, berimbas pada bencana kebakaran, dan kerugian ekonomi yang cukup besar di masyarakat. Bahkan, padamnya listrik juga berdampak besar terhadap aktivitas kehidupan warga.

Pada hari itu, sejumlah layanan publik pun terpaksa harus berhenti operasi dan sejumlah penumpang dievakuasi. Seperti terjadi pada Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta yang harus mengeluarkan 3.000-an penumpangnya dari kereta yang sedang beroperasi di bawah tanah maupun di jalur layang.

Selain itu, akibat padamnya aliran listrik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), berdampak sejumlah rumah di wilayah Jabodetabek mengalami kebakaran dan banyak warga yang kehilangan tempat tinggal. Tercatat sebanyak 109 jiwa mengungsi dengan kerugian ditaksir mencapai Rp1 miliar.

Peristiwa padamnya listrik di sejumlah daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, dan DKI Jakarta ini, menjadi catatan kelam PLN, sejak kasus serupa terjadi pada 1997.

"Iya pernah. Tahun 1997. Jadi Jawa-Bali blackout. Kemudian September 2018 itu parsial. Itu kejadian di Bekasi. Kalau dilihat dari kurun waktu ini tidak sering," kata Pelaksana Tugas Direktur Utama PLN, Sripeni Inten Cahyani, di Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) Cinere, Gandul, Depok, Jawa Barat, Minggu 4 Agustus 2019.

?Plt Direktur Utama PT PLN, Sripeni Inten Cahyani

Sripeni mengungkapkan, kejadian padamnya listrik secara massal kali ini menjadi bahan evaluasi, proses improvement, baik dari sisi kesisteman, hingga mana yang masih butuh perbaikan.

Dia menjelaskan, peristiwa padamnya listrik terjadi sekira pukul 11:45 WIB, detik ke-27 pada Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) di Ungaran dan Pemalang akibat terjadi gangguan pada line 1 (circuit 1).

Kemudian, disusul gangguan circuit 2, sehingga keduanya terjadi gangguan. "Akibatnya terjadi penurunan tegangan yang menyebabkan pukul 11:48 detik ke-11 itu menyebabkan jaringan SUTT Depok, Tasik, mengalami gangguan. Akibat dari circuit Ungaran, Pemalang, dua-duanya circuit tadi lepas, akhirnya menyebabkan Depok, Tasik gangguan," katanya.

Peristiwa itu merupakan awal dari terjadinya pemadaman dini sistem listrik di Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta.

"Pada saat 11:45 detik ke-27, saat itu Jatim, Jateng normal, hanya Brebes saja. Tapi, Brebes ini masuk ke dalam sistem Jawa Barat. Jadi saat 11:45 Jawa Timur, Bali aman, Jawa Tengah aman. Tapi 11:48 Jabar, DKI, Banten off," tutur Sripeni.

Terkait hal itu, Sripeni bersama jajaran memimpin langsung proses pemulihan (recovery) dari kantor pusat pengatur beban di Gandul, Depok. Ia pun menegaskan bahwa peristiwa ini bukanlah sebuah sabotase atau dampak dari gempa Banten lalu.

Langkah Recovery

Sementara itu, untuk memastikan secara jelas apa yang menjadi penyebab blackout ini, PLN akan melakukan investigasi secara mendalam baik secara internal maupun eksternal.

Selain itu, untuk melakukan recovery, pihaknya juga mengajak sejumlah perguruan tinggi untuk kerja sama menyelesaikan masalah ini secara cepat dan komprehensif.