Perempuan Tanah Jahanam, Penantian Joko Anwar Selama 10 Tahun - VIVA
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
Jumat, 11 Oktober 2019 | 06:58 WIB

Perempuan Tanah Jahanam, Penantian Joko Anwar Selama 10 Tahun

Skenario Perempuan Tanah Jahanam sudah disiapkan Joko sejak 2009.
Cuplikan Film Perempuan Tanah Jahanam
Photo :
  • Dokuemntasi Base Indonesia

Cuplikan Film Perempuan Tanah Jahanam

VIVA – Film horor thriller Perempuan Tanah Jahanam akan tayang pada 17 Oktober 2019 di seluruh bioskop Tanah Air. Joko Anwar sebagai sutradara patut berbangga hati karena ini merupakan proyek yang dinantikan sejak 10 tahun silam.

Joko tak sembarangan dalam menyiapkan cerita, lika-liku konflik, pemeran hingga lokasi syuting, semua ia buat dengan riset mendalam. Saking detailnya, skenario film ini telah dia siapkan sejak tahun 2009.

"Ini film yang sudah saya siapkan sejak 10 tahun lalu yang waktu itu sudah hampir selesai. Dulu mau ngerjain tahun 2009 tapi takut karena film ini butuh level teknik dan estetika yang halus banget pegangannya," kata Joko saat jumpa pers di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Kamis malam, 10 Oktober 2019.

Baca juga: 50 Persen Pemain Perempuan Tanah Jahanam, Aktor Baru dari Jawa Timur

Bagi Joko, film yang diproduksi oleh Base Entertainment, Ivanhoe Pictures, Rapi Film, dan CJ Entertainment itu lebih dari sekadar kerja sama antara kru, pemain dan produser. Karenanya, dia berharap Perempuan Tanah Jahanam benar-benar bisa menjadi hiburan bagi banyak orang.

"Ini adalah hari yang saya tunggu, luar biasa antara produser, kru dan pemain. Kita lebih dari sekadar hubungan dengan pemain saja tapi kita bikin keluarga. Mudah-mudahan jadi pengalaman yang menyenangkan," ucap sutradara Pengabdi Setan dan Gundala itu.

Demi menjaga autentisitas cerita dan kisahnya, Joko rela menghabiskan waktu selama tiga bulan untuk riset mencari lokasi syuting, yakni sebuah desa yang sesuai dengan gambarannya. Bukan desa yang ramai dengan penduduk, namun desa yang benar-benar sudah lama ditinggalkan. Hanya ada beberapa rumah kayu, rumah kepala desa dan rumah mewah usang yang tak berpenghuni.

"Art director kenal sama pecinta alam yang ketemu sebuah hutan di sebuah tempat. Katanya ke hutan itu 30 menit, tapi dua jam enggak sampai. Akhirnya kita buka jalan dan syuting ke situ. Desanya Desa Palpakis di Jawa Timur tapi set cerita kita Jawa Tengah," ungkap Joko.

loading...
Muat Lainnya...