Profil Yohanes Surya - VIVA
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
Prof. Yohanes Surya, Ph.D

Prof. Yohanes Surya, Ph.D

Jakarta, 6 November 1963
s/d
Sekarang
https://thumb.viva.co.id/media/frontend/tokoh/2016/11/14/58297bfd44ba6-yohanes-surya-ql_324_116.jpg
Riwayat

Kecintaannya pada anak-anak Indonesia, Yohanes Surya memilih kembali ke tanah air meskipun sudah mendapat surat izin tinggal dan bekerja di Amerika Serikat. Ia ingin mengharumkan nama Indonesia melalui olimpiade fisika. Sejak itu, bermunculan juara-juara anak Indonesia di pentas dunia.

Pria kelahiran Jakarta, 6 November 1963 ini setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah meneruskan kuliah di jurusan Fisika Universitas Indonesia. Lulus pada tahun 1986, ia mengajar di di SMAK Penabur Jakarta hingga tahun 1988.

Meski sudah mengajar di SMA, ia tak lepas kontak dengan dosen-dosennya. Bahkan ia didorong oleh para dosen pembimbingnya untuk memperdalam fisika lebih lanjut. Ia pun menempuh program master dan doktornya di College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat. Program masternya diselesaikan pada tahun 1990 (saat usia 27 tahun) dan program doktornya pada tahun 1994 (31)  dengan predikat cum laude.

Selepas mendapatkan gelar Ph.D., Ia  menjadi Consultant of Theoretical Physics di TJNAF/CEBAF (Continous Electron Beam Accelerator Facility) Virginia – Amerika Serikat (1994).

Walaupun sudah punya Greencard (izin tinggal dan bekerja di Amerika Serikat), Yohanes Surya akhirnya pulang ke Indonesia dengan tujuan ingin mengharumkan nama Indonesia melalui olimpiade fisika. Semboyannya waktu itu adalah “Go Get Gold” serta mengembangkan fisika dan ilmu sains di Indonesia.

Keterlibatan Yohanes Surya dalam Olimpiade Fisika, dimulai ketika ia masih menjadi kandidat doktor Fisika di College of William and Mary. Ia tertarik ketika melihat pengumuman bahwa akan diadakan Olimpiade Fisika International (IPhO - International Physics Olympiad ke-24) di kampus William and Mary. Bersama dengan rekannya Agus Ananda, ia meminta bantuan Universitas Indonesia untuk mengadakan seleksi bagi 5 orang siswa SMA Indonesia.

Akhir tahun 1994, Ia memutuskan untuk pulang ke Indonesia untuk melatih dan memimpin Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI). Selain itu, Yohanes Surya juga menjadi pengajar dan peneliti pada program pasca sarjana UI untuk bidang fisika nuklir (tahun 1995–1998).

Sejak tahun 2000, Yohanes Surya banyak mengadakan pelatihan untuk guru-guru fisika dan matematika di hampir semua kota besar di Indonesia, di ibukota kabupaten/kotamadya, sampai ke desa-desa di seluruh pelosok Nusantara, termasuk pesantren-pesantren. Untuk mewadahi pelatihan-pelatihan ini Yohanes Surya mendirikan Surya Institute. Ia pun mencetuskan konsep Mestakung (seMESTA menduKUNG) dan Gasing (Gampang, Asyik, Menyenangkan) dalam belajar fisika dan matematika.

Yohanes Surya merupakan penulis produktif untuk bidang Fisika/Matematika. Ada 68 buku sudah ditulis untuk siswa SD sampai SMA. Selain menulis buku, ia juga menulis ratusan artikel Fisika di jurnal ilmiah baik nasional maupun internasional. Selain sebagai penulis, Yohanes Surya juga sebagai narasumber berbagai program pengajaran Fisika melalui CD ROM untuk SD, SMP dan SMA.

Selain unjuk kecerdasan dalam fisika dan sain, Yohanes Surya juga diganjar beberapa jabatan akademis. Ia diilih menjadi Dekan Fakultas Sains dan Matematika Universitas Pelita Harapan, Kepala Promosi dan Kerjasama Himpunan Fisika Indonesia (2001-2004), juri berbagai lomba sains/matematika. Rektor Universitas Multimedia Nusantara.

Bahkan untuk mengembangkan fisika, ia harus terlibat lansung dalam urusan struktural akdemisi. Pertengahan 2009, Ia pun merintis berdirinya Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Surya (STKIP Surya) di Tangerang.untuk mencetak guru-guru yang berkualitas dari berbagai daerah tertinggal di Indonesia.

Pada tahun 2013, Yohanes Surya mendirikan universitas berbasis riset, Surya University fokus pada pendidikan, energi dan ilmu hayati/life sciences
yang didukung oleh ratusan ilmuwan dan lebih dari 77 research center. Surya University akan menjadi pilar utama Indonesia Jaya 2030.

KELUARGA
Istri            : Christina
Anak          : Chrisanthy Rebecca Surya
             

PENDIDIKAN
SD Pulogadung Petang II Jakarta Timur, (1968 - 1974)
SMPN 90 Jakarta, (1974 - 1977)
SMAN 12 Jakarta, (1977 - 1981)
S1, Jurusan Fisika FMIPA, Universitas Indonesia, (1981 - 1986)
S2, Physics Dept. College of William and Mary, USA, (1990-1994)
S3, Physics Dept. College of William and Mary, USA, (1990 - 1994)

KARIER
Guru fisika SMAK 1 Pintu Air (1986 - 1988)
Teaching Assistant Physics Dept. College of William and Mary (1988 - 1989)
Research Assistant Physics Dept. College of William and Mary (1989 - 1993)
Researcher/Postdoc Continous Electron Beam Accelerator Facilities (1994)
Peneliti Jurusan Fisika Universitas Indonesia (1995 - 1997)
International Center for Physics and Mathematics Univ. Pelita Harapan (1998 - 2003)
Dekan Fakultas Sains dan Matematika Univ. Pelita Harapan (2003 - 2004)
CEO The Mochtar Riady Center for Nanotechnology and Bioengineering (The Mochtar Riady Institute) (2004 - 2005)
Dewan penyantun (majelis wali amanah) Sekolah Tinggi Assalamiyah Banten (2005)
Professor Fisika Universitas Kristen Satya  Wacana Salatiga (2005)
Rektor Universitas Multimedia Nusantara (2007 - 2010)
Rektor STKIP Surya (2010 - 2012)
Rektor Surya University (2013-)