Download Our Application
A Group Member of VIVA
img-thumb

viva.co.id

  • Jumat, 12 Januari 2018 | 12:03 WIB
  • Mengenang saat Amunisi Mengamuk di Langit Cilandak

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Angger Dwi Anggoro dan Anita Florensa Siburian
Ilustrasi ledakan.
Photo :
Ilustrasi ledakan.

VIVA – Malam hari merupakan waktu yang digunakan manusia untuk berkumpul, menikmati hidangan malam, menyaksikan hiburan malam, atau merajut mimpi bersama keluarga. Namun, tidak untuk malam hari pada 30 Oktober 1984 silam.

Sekitar pukul 08.00 malam, ketenangan di hari Selasa itu, tepatnya di wilayah Markas Marinir TNI Angkatan Laut Cilandak, Jakarta Selatan, seketika diambil alih oleh dentuman-dentuman luar biasa berbagai jenis amunisi yang meledak dan terlempar ke sana ke mari di udara.

Terdengar teriakan mengerikan orang-orang di sekitar lokasi kejadian. Mereka berlari ke sana ke mari menyelamatkan diri masing-masing dari ledakan dan hantaman amunisi yang dapat menarik paksa nyawa mereka.

Peristiwa satu malam yang membuat seluruh badan gemetar dan bulu kuduk berdiri itu disebabkan karena meledaknya gudang amunisi milik Marinir TNI Angkatan Laut. Suara kencang akibat dentuman yang memecahkan gendang telinga tersebut, menjadikan satu malam yang tidak akan pernah terlupakan. Terutama bagi masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah Cilandak dan sekitarnya.

Lihat juga

Peluru-peluru runcing berbahan besi terbang di udara melewati atas genteng rumah-rumah warga sekitar. “Pakde dan keluarga yang lain sedang beraktivitas sendiri-sendiri. Ada yang di kamar dan ada yang di ruang keluarga. Kemudian pas kejadian itu terjadi, kakek langsung memanggil kita semua dan disuruh kumpul di ruang keluarga untuk berdoa bareng-bareng meminta perlindungan,” cerita Bambang salah satu warga sekitar yang mengalami peristiwa mencekam tersebut.

Bambang mengatakan, dulu dia bertempat tinggal di Kompleks Polri, Ampera Raya, yang tidak jauh dari lokasi peristiwa gudang amunisi yang meledak tersebut. Saat peristiwa itu terjadi, dia baru menginjak usia 17 tahun. Dia mengaku melihat samar-samar tetangganya yang berlarian keluar rumah sambil menjerit ketakutan seperti sedang melihat malaikat pencabut nyawa di hadapannya.

Kebanyakan mereka memilih mengamankan diri keluar rumah, karena sudah tidak memiliki tempat bersembunyi. Rumah pribadi mereka telah dibuat rusak oleh peluru besi yang merajalela. “Kita di dalam rumah udah bener-bener pasrah. Enggak tahu mesti berbuat apa lagi. Pokoknya cuma minta perlindungan dan mengharapkan yang terbaik, mengharapkan keselamatan,” sambung Bambang memperjelas keadaan pada malam itu.

Dari dalam rumah, terdengar bunyi peluru-peluru yang kapan saja dapat menghantam rumah-rumah di sekitar. Bambang juga menuturkan, tidak sedikit anggota keluarganya yang menangis ketakutan mendengar suara pecahan-pecahan kaca dari rumah-rumah tetangganya.

Menurut apa yang disaksikan warga sekitar, tidak hanya peluru meriam yang berukuran besar saja yang terlempar tidak terarah di udara. Tetapi juga ranjau, granat, serta bahan-bahan peledak seperti bom.

Amunisi juga melayang dan mendarat pada beberapa daerah seperti Fatmawati, Pasar Minggu, bahkan hingga ke wilayah Depok. Hampir seluruh warga yang bertempat tinggal pada wilayah-wilayah yang telah disebutkan di atas diungsikan. Namun, ada juga sebagian warga yang memilih untuk tetap di rumah seperti yang dilakukan keluarga Bambang saat itu.

Bangunan Rumah Sakit Fatmawati ikut menjadi korban ledakan amunisi yang membabi buta kala itu. Kaca-kaca gedung yang hanya berjarak 2,5 kilo meter dari lokasi kejadian pecah terkena hantaman amunisi. Pasien rumah sakit diungsikan ke RS Pertamina, Gereja HKBP, Balai Rakyat, dan masjid-masjid yang dilihat cukup aman.

Warga-warga yang mengalami peristiwa itu mengaku tidak tahan akan bunyi dan hantaman amunisi yang mendarat di mana-mana. Seperti sedang berdiri di tengah lapangan sewaktu hujan badai, yang sewaktu-waktu nyawa dapat melayang terkena sambaran petir.

Peristiwa mencekam, mengancam nyawa, dan menggelegar itu juga dialami oleh Soewarti, salah satu penduduk wilayah Fatmawati. Awal mula dia mendengar ledakan kecil bertubi-tubi seperti suara petasan, namun tak kunjung berhenti meledak. Hingga klimaks pun tiba, berlusin-lusin jenis amunisi mengamuk di udara.

Kegelapan malam kala itu beralih menjadi terang yang menyilaukan mata bagaikan api neraka. Suara dentuman keras menusuk jantung penduduk sekitar yang ketakutan,dan membuat seluruh anggota tubuh bergetar merinding dibuatnya. “Saya meraba-raba tembok sambil jalan ke depan pintu. Kaki sudah gemetar, sambil berjalan untuk melihat ada apa di luar sana,” ujarnya.

“Bener-bener deh, satu malem itu bikin semua orang berdoa minta cepet-cepet diselesain. Kita semua udah pada enggak kuat ngalamin kejadian itu. Bayangin aja, yang melayang-layang di atas atap rumah itu amunisi, peluru, jenis bahan peledak,” tambah wanita dengan tiga anak tersebut.

Tidak ada hal lain yang dapat dilakukan selain berlindung dan berdoa kepada Gusti Alam Semesta. Ibarat,Ssi kuat yang terjatuh juga, amukan amunisi membuat seluruh kalangan masyarakat sekitar berdoa. Baik itu tentara, warga sipil, guru, pejabat, dan masyarakat lainnya.

Pecahan kaca rumah-rumah warga membanjiri tanah. Suara gemuruh berbagai jenis amunisi di atas rumah mereka, menghiasi langit pada malam terkutuk itu. Soewarti juga mengatakan kalau lampu listrik padam di seluruh wilayah sekitar lokasi kejadian. Wilayah tersebut seolah tidak terkontrol, dan tidak ada yang bisa menghalangi kekejian amunisi yang sudah tidak dapat didamaikan lagi.

Hal yang dialami Soewarti, tidak jauh berbeda dengan yang Bambang rasakan. Di dalam rumah, Soewarti dan keluarga hanya mampu membalikkan telapak tangan, menunduk, dan dengan penuh rasa ketakutan mengharapkan Tuhan memberikan tameng-tameng pada rumahnya. Agar mereka terlindung dan selamat dari peristiwa terkutuk itu.

Terlebih, pada saat itu, belum ada sarana komunikasi yang sudah canggih dan merambah ke segala penjuru yang dapat digunakan setiap orang. Belum ada telepon seluler, sehingga para penduduk tidak bisa memberi kabar dan meminta pertolongan kepada sanak keluarga mereka di tempat lain.

Para tentara yang bertempat tinggal di Kompleks Marinir Cilandak, yang dikenal sebagai sosok pemberani dan bernyali besar seolah hanya memiliki setetes nyali pada malam itu. Mereka tidak mampu melakukan sesuatu melainkan berlari menjauh dari lokasi gudang amunisi,dan menyelamatkan keluarga mereka ke tempat pengungsian.

Para tentara yang berjaga dan belum memiliki keluarga lekas menolong warga sipil dan membantu mengarahkan mereka ke tempat pengungsian yang tidak terlalu jauh dari lokasi kejadian. Penyebab terbakarnya gudang yang mengakibatkan berbagai jenis amunisi mematikan tersebut mengamuk belum diketahui secara pasti.

Dari informasi warga yang mengalami langsung kejadian itu, tidak ada yang mengetahui secara pasti penyebab bencana perenggut korban tersebut. Karena pada saaat itu belum ada sarana yang memadai untuk mentransfer informasi secara detail dari lokasi kejadian. Bantuan dari aparat pemerintah kala itu baru dikerahkan setelah badai amunisi tersebut reda. Karena tidak ada yang berani menembus seramnya malam itu.

Untung saja, pada saat itu belum ramai bangunan-bangunan di sekitar lokasi Cilandak.  Tidak seperti saat ini yang sudah penuh dikepung dengan mal-mal besar, pasar modern, pasar tradisional, dan pemukiman warga. Dan beruntung juga, karena peristiwa tersebut mengambil alih wilayah Cilandak pada malam hari. Bayangkan jika bencana seram itu terjadi pada pagi atau siang hari. Masih banyak warga yang beraktivitas di sekitar lokasi, yang pastinya akan lebih mengerikan dan bisa merenggut nyawa lebih banyak.

Tidak ada yang mengharapkan datangnya suatu musibah. Peristiwa nahas ini bisa saja disebabkan karena keteledoran penjaga gudang amunisi yang tidak bertanggung jawab. Atau karena kurangnya arahan dari pimpinan kepada pihak penjaga mengenai hal-hal apa saja yang haus diperhatikan di sekitar lokasi gudang amunisi.

Bencana hebat tersebut membuat pihak Marinir TNI Angkatan Laut Cilandak lebih memperhatikan aset-aset mereka, dan memperketat penjagaan di berbagai lokasi. Tidak akan ada yang mau peristiwa bersejarah tersebut terulang kembali. Karena tidak ada yang mau mengalami kerugian material yang besar, terlebih kehilangan nyawa.

Darah korban yang membasahi tanah dan jalan menjadikan pihak marinir berbenah diri agar bencana kiamat kecil ini tidak terulang. Musibah harus dijadikan sebagai guru agar kita lebih membenahi diri. Dan yang paling penting, janganlah manusia menyombongkan diri dan lupa akan kebesaran Ilahi. Karena jika musibah datang, setiap manusia akan kembali mengingat-Nya dengan memohon perlindungan-Nya. Dan yang pasti, kita semua akan kembali menghadap-Nya suatu hari kelak. (Tulisan ini dikirim oleh Angger Dwi Anggoro dan Anita Florensa Siburian, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Nasional, Jakarta)

 

Terpopuler