APKASINDO: Indonesia Tingkatkan Produktivitas Turunan Sawit
Minggu, 28 Juni 2020 | 12:21 WIB

APKASINDO: Indonesia Tingkatkan Produktivitas Turunan Sawit

Saatnya Indonesia menyerang atas perlakuan kampanye negatif sawit.
Sumber : Kantor DPP APKASINDO
Photo :
  • vstory

Sumber : Kantor DPP APKASINDO

VIVA – Kampanye negative sawit tidak akan pernah berkesudahan, dari puluhan tahun yang lalu selalu ada saja bahan dan material yang menjadi topik yang dipermasalahkan. Industri sawit masih memiliki hambatan besar pada pasar Eropa.

Kampanye negatif mengenai industri kelapa sawit tidak hanya gencar di berbagai media, namun organisasi-organinasi Internasional pun disinyalir telah disusupi oleh kepentingan kampanye anti sawit melalui berbagai isu.

Meminjam istilah Prof. Yanto yang disampaikan pada suatu seminar, ibarat pertandingan sepakbola, bahwa Eropa itu suka memindah-mindahkan gawang, jadi saat semua sudah fokus ke gawang, saat itu juga gawang dipindah.

Dan Kampanye negatif ini tidak akan pernah berhenti, kecuali sawit bisa tumbuh di negara Eropa. Kampanye negatif sawit dipersubur oleh tudingan-tudingan LSM Domestik.

Selain itu selama ini minimnya kampanye positif sawit baik melalui media Indonesia maupun media luar negeri turut memperburuk citra sawit Indonesia. Hal ini harus menjadi evaluasi diri bagi pemerintah Indonesia tentang kebijakan kampanye positif sawit Indonesia melalui media.

Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Gulat Manurung, setuju dengan ungkapan Prof. Yanto, namun Gulat menawarkan strategi yang berbeda yaitu ‘berhenti menjadi penjaga gawang’, saatnya menjadi penyerang.

Penjaga gawang itu ibarat orang asing di atas lapangan. Ia dibedakan mulai dari seragam sampai aturan bersepakbola. Jika rekan-rekannya dilarang keras menggunakan tangan, ia diharuskan untuk menggunakan tangan.

Jika teman-temannya bertugas untuk mencetak gol, ia dipaksa untuk mencegah terjadinya gol. Dan bagi kebanyakan orang, mencetak gol jauh lebih menarik daripada menepis gol. Penjaga gawang itu menurut Buffon harus bersikap masokis, tentu bukan masokis secara harfiah, tetapi lebih kepada mengakrabi kesedihan.

Selama ini kita telah menjadi penjaga gawang yang selalu akrab dengan kesedihan, cukup sudah, kita harus menyerang, ujar Gulat.

Menyerang dalam artian kata adalah memperbanyak produk turunan dari CPO. Seperti Pemanfaatan CPO menjadi campuran Solar, atau Biosolar, dari B5 dan saat ini sudah B30. Menurut Ketum DPP APKASINDO Gulat Manurung bahwa strategi yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo sudah sangat benar, pemanfaatan CPO sebagai campuran Solar murni.

Sesungguhnya dengan strategi bio-solar ini, negara-negara Importir CPO justru ketar-ketir, karena Biosolar lah sesungguhnya saingan mereka, semakin tinggi pemanfaatan CPO untuk Biosolar maka ketersediaan CPO Indonesia untuk eksport semakin terbatas karena tingginya kebutuhan domestik.

Sesuai dengan teori ekonomi supply and demand, maka harga yang harus dibayar negara Importir CPO dengan semakin naiknya konsumsi CPO Domestik, akan semakin mahal. Oleh karena itu, kita tidak usah terlalu ambil pusing dengan melakukan kampanye untuk negara tujuan ekspor CPO, yang kita lakukan saat ini adalah berhenti jadi penjaga gawang dan saatnya menjadi penyerang, ujar Gulat.

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

Topik