Akar Kemiskinan, Bagaikan Tembok Cebong dan Kadrun
Kamis, 2 Juli 2020 | 11:19 WIB

Akar Kemiskinan, Bagaikan Tembok Cebong dan Kadrun

Jadi akar kemiskinan adalah adanya tembok cluster.
Ilustrasi (Twitter/KomikKita)
Photo :
  • vstory

Ilustrasi (Twitter/KomikKita)

VIVA - Dipikir-pikir, apa yang salah dengan ketertinggalan ekonomi muslim di Indonesia. Ada yang bilang ekonomi syariah. Dengan logika konsumennya muslim, ada 200 juta muslim. Tapi tetap saja ada ketimpangan pendapatan. Kenapa?

Ada yang menyalahkan ilmu pengetahuan muslim yang ketinggalan. Tidak.

1. Semua bermula dari miskin. Setiap konglomerat di Indonesia mulai dari miskin. Zaman Belanda semua miskin. Zaman Jepang apalagi.. Semua pakai kain blacu, bahan karung terigu. Zaman itu hanya kapiten bahan tetoron, atau katun. Sisanya blacu. Kain terigu.

2. Kemarin saya bertemu dengan direktur utama BSD bersama cawalkot Tangsel. Ya, lika-liku kami bisa bertemu dengan direktur adalah melalui tetangga saya ketua komunitas muslim, dan ketua paguyuban musolah dan masjid se-Banten. Padahal sosok cawalkot rumahnya di ujung batas terjauh Ciputat dengan Serpong. Ya, miskin.

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

Topik