Transportasi Online, Antara Kesehatan dan Pendapatan

Transportasi Online, Antara Kesehatan dan Pendapatan

Kamis, 13 Agustus 2020 | 12:30 WIB
Kini tak sedikit yang beralih mengantarkan barang.
Di masa pandemi ini, pengendara transportasi online mengalami masalah pelik. Meskipun begitu driver tetap bertahan dengan mengandalkan pemasukan dari jasa mengantarkan barang.
Photo :
  • vstory

Di masa pandemi ini, pengendara transportasi online mengalami masalah pelik. Meskipun begitu driver tetap bertahan dengan mengandalkan pemasukan dari jasa mengantarkan barang.

VIVA – Di masa pandemi ini, pengendara transportasi online mengalami masalah pelik. Pendapatan mereka berkurang drastis sejak wabah menyerang, skema work from home diberlakukan banyak perusahaan dan jumlah pengguna aktif aplikasi berkurang.

Berdasarkan data rata-rata pengguna aktif pada aplikasi Gojek pada akhir Februari 2020 berada di kisaran 3,3 juta pengguna. Sedangkan, Grab memiliki rata-rata 3 juta pengguna. Akan tetapi, memasuki bulan Maret 2020 mulai terjadi penurunan. Pengguna aktif Gojek menurun sekitar 14?ri rata-rata mingguan pada 13 Maret sekitar 3,2 juta pengguna, menjadi hanya 2,5 juta pengguna pada 26 Maret 2020.

Sementara Grab, mengalami penurunan hingga 16?ri rata-rata sekitar 2,5 juta pengguna aktif menjadi hanya 2 juta pengguna aktif pada 26 Maret 2020. Data ini juga menunjukkan penurunan pada minggu kedua bulan Maret yakni pada tanggal 19 Maret, Gojek turun di angka 2,9 juta sedangkan Grab hanya 2,4 juta.

Keresahan driver bertambah ketika tarif yang dipasang oleh aplikator tak berubah, padahal mereka berharap harga yang dikenakan dapat lebih tinggi. Cerita lain juga didapat dari pengendara transportasi online, para driver yang lebih banyak mengambil pesanan antar barang, selama masa pandemi ini mereka mengaku pendapatannya bertambah.

Masalahnya, saat membawa penumpang dilarang seperti sekarang, maka driver lain akan beralih ke layanan lain, termasuk antar barang. Mereka juga kesulitan saat mengantar barang ke kawasan kompleks dan apartemen. Ketika memasuki pos penjagaan, tubuh mereka disemprot desinfektan, harus mencuci tangan, suhu tubuh diperiksa, dan lain-lain.

Walaupun begitu, hasil survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang dilakukan kepada mitra aplikasi transportasi online Grab menyebutkan, mayoritas driver ojol masih akan bertahan setelah pandemi Covid-19 selesai. Kepala Departemen Ekonomi CSIS Yose Rizal Damuri mengatakan, 98 persen driver ojol yang berada di daerah Jakarta dan sekitarnya masih akan menjadikan Grab sebagai sumber pendapatan utama.

Berdasarkan hasil studi tersebut, meski sempat tidak dapat mengangkut penumpang, driver ojol masih mampu menggunakan jasa lain, seperti pengiriman barang dan makanan, sebagai sumber pendapatan.

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

Berita Terkait :
Topik
Saksikan Juga