Kasus Mutilasi, Ini Pengalaman Wartawan Kriminal (2)

Kasus Mutilasi, Ini Pengalaman Wartawan Kriminal (2)

Sabtu, 19 September 2020 | 11:19 WIB
Ternyata, penemuan mayat terpotong 13 itu bukan kasus mutilasi pertama di Indonesia.
Nelson Siahaan (kiri) Diapari Sibatangkayu (kanan) -- kolase foto Nur Terbit
Photo :
  • vstory

Nelson Siahaan (kiri) Diapari Sibatangkayu (kanan) -- kolase foto Nur Terbit

VIVA – Selama jadi reporter desk kriminal di Harian Terbit (Pos Kota Grup) Jakarta, memang biasanya saya bukan peliput peristiwa utama. Melainkan kebagian tugas menulis feature -- rubrik khusus di surat kabar dengan gaya bertutur atau story' telling -- dari kisah-kisah kriminal yang lagi jadi sorotan masyarakat.

Tugas ini memang gampang-gampang susah. Cuma sebatas diterjunkan oleh kantor setelah peristiwa terjadi dan sudah "dilahap" media koran harian. Waktu itu belum ada media online dan media sosial. Televisi juga seingat saya baru TVRI, belum ada televisi swasta.

Sebagai reporter pada desk kriminal, saya lalu disuruh investigasi sendiri ke lapangan. Tujuannya untuk "menjahit" kumpulan informasi atau berita yang berserakan lalu dibangun menjadi cerita utuh.

Repotnya lagi kala itu belum ada "Mbah Google" atau internet. Belum ada handphone kecuali telepon umum atau pesan satu arah melalu pager (Starko). Untuk literatur hanya mengandalkan berita koran, siaran radio, atau nongkrong di perpustakaan.

Ketemu Dokter Forensik, Mun'im

Pengalaman meliput berita kasus pembunuhan, juga diceritakan teman saya Nelson Siahaan, mantan Redaktur Desk Kriminan Harian Pos Kota Jakarta. Salah satunya penemuan mayat terpotong 13.

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

Berita Terkait :
Topik
Saksikan Juga
Artikel Terpopuler