Sejarah Kronologis Perkembangan Ilmu Kimia
Senin, 4 November 2019 | 17:17 WIB

Sejarah Kronologis Perkembangan Ilmu Kimia

Perkembangan ilmu kimia berkembang begitu pesat pada abad ke-18.
Banyak yang tidak tau bahwa pembawa kimia metode ilmiah ini adalah ilmuwan muslim, yuk simak bagaimana perkembangannya!
Photo :
  • vstory

Banyak yang tidak tau bahwa pembawa kimia metode ilmiah ini adalah ilmuwan muslim, yuk simak bagaimana perkembangannya!

VIVA – Ilmu Kimia adalah ilmu yang hakikatnya mempelajari tentang susunan, struktur, sifat, dan perubahan pada materi. Kemajuan teknologi adalah bukti nyata akan perkembangan ilmu kimia yang begitu pesat pada abad ke-18. Namun tahukah Anda bahwa jauh sebelum ilmu kimia ada, peradaban Mesir kuno sudah mempraktikan reaksi kimia yang dikenal dengan al-kimia.

Sekitar tahun 3500 SM peradaban mesir kuno telah mengetahui bagaimana cara membuat anggur, pembalseman (pengawetan mayat), dan pengolahan beberapa logam seperti timah dan tembaga. Sekitar abad ke-4 SM para filsuf Yunani, termasuk Democritus dan Aristoteles sudah mencoba memahami hakikat dari suatu materi.

Menurut Democritrus, setiap materi apabila dibagi menjadi 2 bagian secara terus menerus, akan menjumpai sebuah partikel terkecil yang tidak dapat dibagi kembali. Partikel inilah yang disebut atom. Akan tetapi, Aristoteles tidak menerima pendapat dari Democritus itu.

Menurut Aristoteles sendiri, bahwa materi merupakan sesuatu yang tersusun atas 4 jenis unsur, yaitu tanah, air, udara. dan api. Pada peradaban Mesir kuno tersebut, orang menganggap al-kimiawan sebagai ahli pseudosains yang berupaya mengubah unsur timah menjadi unsur emas.Mereka mencoba eksperimen tersebut berdasarkan teori dari Aristoteles bahwasannya semua materi tersusun atas empat unsur tanah, udara, air, api, dan sedikit bumbuan mistisisme dan sihir.

Hingga pada abad ke-8 lahirlah Ilmu kimia pertama kali yang merupakan ilmu dengan melibatkan kegiatan ilmiah (rasional) yang dibawa oleh para ilmuwan Muslim bangsa Arab dan Persia, salah satunya Jabir ibn Hayyan. Dikenal dengan julukan bapak ipmu kimia, Jabir ibn Hayyan merupakan ahli kimia terkemuka pada abad itu.

Ia menamakannya sebagai al-kimiya yang berarti perubahan materi atau yang lebih dikenal di Eropa dengan nama latinnya, Geber. Dari kata al-kimiya inilah bangsa-bangsa dari penjuru dunia ini meminjam istilah: alchemi (Latin), chimie (Perancis), chemistry (Inggris), chemie (Jerman), chimica (Italia) dan kimia (Indonesia).

Jabir ibn Hayyan dianggap sebagai penulis 22 gulungan yang menggambarkan metode kristalisasi, sublimasi, evaporasi, dan distilasi. Ia menemukan alembic, suatu alat yang digunakan untuk mempelajari dan menyaring zat asam. Ia juga merupakan seorang yang mengembangkan sistem klasifikasi kimia awal menggunakan sifat dari bahan yang dia pelajari.

Menurutnya klasifikasi ilmu kimia sebagai berikut spirits (air) bahan yang akan menguap ketika dipanaskan, logam termasuk besi, emas, tembaga, dan timah, dan zat-zat yang tidak lunak bahan yang dapat dibuat menjadi bubuk, seperti batu atau jika sekarang dikatakan sebagai bahan kimia, logam dan non-logam yang mudah menguap.

Selanjutnya, Robert Boyle (1627-1691) mempelajari tentang gas dan menemukan hubungan terbalik antara volume dan tekanan gas. Dia juga menyatakan bahwa semua realitas dan perubahan dapat dijelaskan dalam partikel dasar dan gerakan partikel tersebut.

Pada 1661, ia menulis buku teks kimia pertama, The Skeptical Cymist,  yang memindahkan studi zat jauh dari asosiasi mistik dengan alkimia dan menuju penyelidikan ilmiah. Dimulai dengan munculnya teori Flogiston. Teori ini dinyatakan oleh Georg Ernst Stahl.

Flogiston sendiri berasal dari kata Yunani phlox yang berarti nyala api. Apabila suatu benda dibakar atau suatu logam dikapurkan, maka Flogiston diberikan kepada udara di sekitarnya. pada hakekatnya semua benda mengandung Flogiston.

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.