Dompet Digital dan Kemudahan Berutang, Apa Dampaknya?
Senin, 9 September 2019 | 17:51 WIB

Dompet Digital dan Kemudahan Berutang, Apa Dampaknya?

Dengan cara yang mudah semua bisa berutang.
Ilustrasi Fintect
Photo :
  • vstory

Ilustrasi Fintect

VIVA.co.id – Setelah hampir satu minggu puasa kenikmatan cita rasa kopi di salah satu kedai kopi yang berada di utara kota Jogja, akhirnya malam itu saya kembali merasakan dan menikmati kopi yang sudah lama saya rindukan. Selain untuk sekadar menikmati kopi di kedai kopi tersebut, saya juga mencoba melakukan beberapa hal dengan harapan kafein pada kopi bisa menjadi stimulan untuk memberi inspirasi dalam berkreasi. 

Sejak awal duduk di bangku Sekolah Menegah Atas hingga saat ini menjadi mahasiswa, saya sudah terbiasa menghabiskan waktu beberapa jam dalam seminggu untuk sekadar menikmati kopi. Pola ini terus berulang, namun ada satu hal yang berbeda. Saat ini saya akan lebih tertarik menikmati kopi di kedai kopi yang menerima transaksi menggunakan aplikasi dompet digital, apalagi jika ada cashback (uang kembali)  

Menemukan kedai kopi yang menerima transaksi pembayaran menggunakan aplikasi dompet digital di Jogja sangatlah mudah. Sehingga mengapa saya merasakan hal yang sangat berbeda ketika mudik ke Aceh bulan kemarin.

Saat berada di Jogja, mayoritas kedai kopi yang saya singgahi menerima pembayaran transaksi menggunakan aplikasi dompet digital. Jauh berbeda saat saya di Aceh yang mayoritas belum menerima transaksi pembayaran menggunakan aplikasi dompet digital. Harapannya, tahun depan saat saya kembali mudik ke Aceh, sudah banyak kedai kopi yang menerima transaksi pembayaran menggunakan aplikasi dompet digital. 

Awal tahun 2017 adalah titik mula saya menjadi pengguna aplikasi dompet digital. Ketika itu saya hanya sekadar mencoba tanpa ada niatan sedikitpun untuk menjadi pengguna setia. Karena memang aplikasi dompet digital pada awalnya belum se-powerful seperti sekarang ini.

Ketika itu belum banyak merchant yang menerima transaksi menggunakan aplikasi dompet digital. Selain terkait jumlah merchant yang belum banyak, saat itu juga untuk melakukan top-up ke aplikasi dompet digital rata-rata mengenakan biaya kepada pengguna sebesar Rp6.500. 

Tentu sangat jauh berbeda dengan saat ini. Di mana ada begitu banyak merchant yang telah menerima transaksi dengan aplikasi dompet digital. Apalagi di kota-kota besar, hampir mayoritas tempat menerima transaksi menggunakan aplikasi dompet digital. Dari merchant besar sampai UMKM kini pembayaran bisa dilakukan menggunakan aplikasi dompet digital. 

Bahkan yang lebih luar biasa lagi adalah, saat ini beberapa aplikasi dompet digital telah memfasilitasi pengguna untuk bisa berutang kepada mereka secara mudah atau istilahnya adalah PayLater.

Konsep inti PayLater dari setiap aplikasi dompet digital bisa dikatakan sama, di mana pengguna diberikan kesempatan untuk bertransaksi secara gratis dengan limit tertentu dan bisa dibayarkan di akhir bulan. Sesuai dengan jika kita artikan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Pay artinya bayar dan later artinya nanti atau bayar nanti.

Istilah PayLater di Indonesia pertama kali dipopulerkan oleh Traveloka. Ketika itu sekitar akhir tahun 2017 mereka mengenalkan metode pembayaran terbaru mereka yaitu Traveloka PayLater dengan mengusung tagline, Cicilan Tanpa Kartu Kredit. Apabila kita merujuk pada informasi di website resmi Traveloka disebutkan bahwa PayLater adalah fasilitas pembayaran terbaru dari TravelokaPay dengan biaya cicilan online atau kredit online tanpa kartu kredit dengan bunga yang rendah.

Traveloka PayLater diluncurkan pada akhir tahun 2017, bisa dikatakan sebagai salah satu startup yang memberikan layanan PayLater kepada penggunannya. Konsepnya seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa pengguna bisa memesan tiket pesawat dan hotel di platform Traveloka tanpa harus membayar langsung. Namun bisa dibayarkan di akhir bulan atau dengan mencicil hingga maksimal dua belas bulan.

Sekadar bekerjasama ataupun langsung mengakuisisi perusahaan yang telah mengantongi izin dari stakeholder terkait memang kerap kali dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar yang akan bermain di dunia Financial Technology (Fintech). Hal ini dikarenakan memang untuk menjadi penyelenggara bisnis fintech harus memiliki izin pihak-pihak terkait seperti Bank Indonesia (BI) ataupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.